Showing posts with label islami. Show all posts
Showing posts with label islami. Show all posts

Monday, February 21, 2022

Bacaan Doa Nurun Nubuwwah dan Keutamaan bagi yang Mengamalkannya

 


Di antara banyaknya , doa nurun nubuwwah menjadi salah satu bacaan yang sering dipanjatkan. Doa ini bahkan telah diamalkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya sejak dulu.

Rasulullah bersabda setelah salat subuh dan duduk bersama para sahabat di masjid, kemudian datanglah Malaikat Jibril membawa doa nurun nubuwwah seraya berkata, “Aku diutus Allah membawa doa nurun nubuwwah untuk diserahkan kepadamu (Rasulullah)"

Dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa doa nurun nubuwwah ini memiliki khasiat yang banyak. Doa ini juga memiliki banyak besar bagi siapa saja yang mengamalkannya ikhlas karena Allah SWT. Apa saja?

Berikut  doa nurun nubuwwah lengkap dengan artinya yang dikutip dari Kitab Majmu Syarif Kamil:

Artinya :

Ya Allah yang Maha Kuat, yang memiliki anugerah, yang merupakan zat yang Maha Mulia, yang menguasia banyak kalimat sempurna dan doa yang mustajab, penjamin Al Hasan dan Al Husain dari jiwa yang hak, pandangan yang penuh kuasa, serta orang-orang yang melihat dari pandangan para jin, manusia dan juga setan.

Sesungguhnya orang yang kafir itu adalah orang yang menjerumuskan kamu dengan pandangan dari mereka, ketika mendengar Al Quran dan mereka pun berkata, “ Sesungguhnya Muhamad adalah orang yang gila. Al quran hanyalah peringatan untuk setiap umat. Wahay yang Dia yang memperkenankan melalui Al quran yang sangat agung. Sulaiman dan juga Daud dan Dia yang Maha Pengasih, sebagai Pemilik Arasy yang Mulia.

Maka panjangkanlah umurku, sehatkanlah tubuhku, tunaikanlah segala yang kuperlukan, dan perbanyakanlah harta dan anakku, jandikanlah aku orang yang terhindar dari segala permusuhan dari anak-anak adam yang masih hidup. Pastikan ketetapan atau azab untuk orang-orang yang kafir. Karena sesungguhnya Engkau adalah yang Maha Kuasa akan segala sesuatu.

Maha suci Tuhanmu, yaitu Maha yang memiliki kebesaran, dari apapun yang (mereka) gambarkan yaitu orang-orang kafir, dan melimpahlah kesejahteraan pada para Rasul, dan segala puji Bagi Allah pemilik Alam Semesta.

Berikut ini merupakan manfaat dan keutamaan doa nurun nubuwwah yang dikutip dari buku Syamsul Ma'arif wa Latha'iful 'Awarif oleh Syeikh Ahmad bin Ali:

1.       Pelindung Dari Sihir

Seorang Muslim yang mengamalkan doa nurun nubuwwah secara istiqomah akan mendapatkan keutamaan berupa perlindungan dari sihir. Rasulullah SAW bersabda:

"Doa Nurun Nubuwwah ini banyak sekali faedahnya bila dibaca dan diamalkan. Dan, apabila tidak dapat membaca atau tidak hafal, maka cukuplah ditulis, kemudian tulisan tersebut disimpan dalam rumah, maka Allah akan senantiasa memberikan perlindungan kepada penghuni rumah itu dari sihir/tenung atau penyakit."

2.       Hajat Tercapai

Doa nurun nubuwwah dikenal juga dengan amalan yang dapat mengabulkan hajat seseorang. Barangsiapa yang membaca dan mengamalkan doa ini di setiap sholat fardhu, maka Allah SWT akan mengabulkan keinginannya.

3.       Menyembuhkan Penyakit

Keutamaan doa nurun nubuwwah selanjutnya adalah dapat menyembuhkan berbagai penyakit. Doa ini bisa dibacakan pada air minum, kemudian minumkan air itu kepada keluarga/kerabat kita yang sedang sakit. Maka atas izin Allah, penyakit tersebut bisa disembuhkan.


Sumber : https://kumparan.com/

Read More

Sunday, February 20, 2022

Biografi Singkat Al-Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafidz

 

Biografi Singkat
Al-Habib Umar bin Muhammad
bin Salim bin Hafidz 

Kelahiran dan Silsilahnya

        Beliau adalah Da’i, penyeru di jalan Allah, ulama pendidik, dengan nasab keturunan: Al-Habib Umar putra Muhammad, bin Salim, bin Hafidz, bin Abdullah, bin Abu Bakar, bin Aidarus, bin Umar, bin Aidarus, bin Umar, bin Abu Bakar, bin Aidarus, bin Husain, bin Syeikh Abu Bakar, bin Salim, bin Abdullah, bin Abdurrahman, bin Abdullah, bin Al-Syeikh Abdurrahman AlSaqqaf, bin Muhammad Mawla Al-Dawilah, bin Ali, bin Alawi, bin Al-Faqih Muhammad Al-Muqaddam, bin Ali, bin Muhammad Sahib Al-Mirbat, bin Ali, bin Alawi, bin Muhammad Sahib al-Sauma`a, bin Alawi, bin Ubaydillah, bin Al-Imam Al-Muhajir il-Allah Ahmad, bin Isa, bin Muhammad Al-Naqib, bin Ali Al-Uraidi, bin Ja`far As-Sadiq, bin Muhammad Al-Baqir, bin Ali Zainal Abidin, bin Husain As-Sibt, bin Ali, bin Abu Thalib dengan Fatimah Az-Zahra, putri junjungan kami, Nabi Muhammad saw. Al-Habib Umar dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut di Republik Yaman, sebelum Subuh dari ibunda beliau Hababah Zahra binti Hafidz bin Abdullah Alhaddar, pada hari Senin, tanggal 4 Muharram, 1383 H, yang bertepatan dengan tanggal 27 Mei 1963. Ia dibesarkan di Tarim. Beliau menghafal Al-Quran yang luar biasa dan dibesarkan di dalam keluarga yang mulia, dalam perawatan ayahnya, dalam lingkungan pengetahuan, iman dan akhlak yang saleh.

Studinya tentang Ilmu Islam

        Sejak usia dini, ia mempelajari ilmu dari sumber-sumber yang suci dan murni termasuk ilmu: Alquran, Hadits, Fiqih, Tauhid, dasar-dasar Syariat (Usul al-Fiqh), berbagai disiplin ilmu tentang bahasa Arab, dan pengetahuan perjalanan spiritual dari para salaf saleh Hadramaut. Di antara mereka yang terbesar adalah ayahnya,10 Al-Habib Muhammad bin Salim, Mufti Tarim, serta para ulama terkemuka yang saleh seperti: Al-Habib Muhammad bin Alawi bin Shihab, Al-Habib Ahmad bin Ali Ibn Al-Syeikh Abu Bakar, Al-Habib Abdullah bin Syeikh Alaydrus, ahli sejarah dan ulama terkemuka, Al-Habib Abdullah bin Hasan Bil-Faqih, sejarawan dan ahli bahasa, Al-Habib Umar bin Alawi Alkaf, Al-Habib Ahmad bin Hasan AlHaddad, kakak Habib Umar, Habib Ali Al-Masyhur, Al-Habib Salim bin Abdullah As-Syatiri, Syeikh dan Mufti Fadl bin Abdurahman Ba Fadl, dan Syeikh Taufiq Aman. Al-Habib Umar mulai mengajar dan berdakwah di jalan Allah ketika dia berusia 15 tahun, sambil terus belajar dan menerima pelajaran.

Migrasinya ke Al-Bayda

            Ketika situasi menjadi sulit karena Rezim Komunis yang ada di Yaman Selatan pada waktu itu, Al-Habib Umar bermigrasi ke kota Al-Bayda di Yaman Utara (tidak di bawah pemerintahan Komunis), pada awal Safar 1402 H (Desember 1981). Disana ia tekun belajar dan berdakwah di jalan Allah. Beliau tinggal di Ribat Al-Bayda dan mengambil pelajaran dari Imam, Al-HabibMuhammad bin Abdullah Al-Haddar dan Ulama yang terkemuka Al-Habib Zain bin Ibrahim Bin Sumait. Al-Habib Umar bin Hafidz rajin menimba ilmu pelajaran dan juga hadir di Majelis-majelis Ilmu. Beliau sering bepergian untuk berdakwah di berbagai

         tempat di Al-Bayda, Al-Hudaydah dan Ta'izz. Beliau sering mengunjungi Ta`izz untuk mengambil pengetahuan dari ulama pendidik, perawi Hadits Al-Habib Ibrahim bin Umar bin Aqil.

Kunjungan-kunjungan Berulangnya ke dua Kota Suci yang Mulia - Mekkah dan Madinah

        Beliau mulai sering mengunjungi dua Kota Suci sejak bulan Rajab 1402 H (April 1982) dan seterusnya. Di sana ia belajar dari Imam, Ulama Wali Besar, Da’i ilallah, Al-Habib Abdul-Qadir bin Ahmad Al-Saqqaf dan Ulama Besar, Da’i ilallah, Al-Habib Ahmad Masyhur bin Tahir Al-Haddad, dan Ulama Besar, pendakwah dan pendidik, Al-Habib Abu Bakar Al-Attas bin Abdullah AlHabsyi. Beliau mengambil ijazah untuk meriwayatkan dari rantai penularan (sanat) dalam ilmu Hadits dan dalam ilmu lain dari 11 perawi rantai yang terhubung, Syeikh Muhammad Yasin AlFaddani dan pendakwah serta pendidik, ahli Hadist dari dua Kota Suci (Alharamain), keturunan mulia junjungan Nabi, Muhammad bin Alawi Al-Maliki, serta ulama-ulama lainnya.

Kepindahannya ke Kota Al-Syihr

        Pada tahun 1413 AH (1992), beliau pindah ke kota Al-Syihr, di provinsi Hadramaut di mana ia mengajar di Ribat Al-Syihr untuk Studi Islam, setelah dibuka kembali dan direbut selama rezim komunis. Beliau tinggal di sana selama beberapa waktu, berdakwah menyeru di jalan Allah dan mengajar. Banyak siswa dari berbagai daerah di Yaman dan sebagian Asia Tenggara

mencari ilmu darinya. Sebelum pindah ke Al-Syihr, beliau sempat tinggal untuk jangka waktu sekitar satu setengah tahun di Kesultanan Oman, berdakwah di jalan Allah, mengajar, dan mengajak umat ke jalan Al-Mustafa saw.

Kepindahannya ke Kota Tarim

        Beliau kemudian pindah dari Al-Syihr ke Tarim, di mana beliau menetap dan menerima sejumlah siswa dari berbagai belahan dunia. Dar al-Mustafa untuk Studi Islam Tradisional didirikan pada 1414 H (1994). Ini didasarkan pada tiga tujuan: ILMU - mempelajari ilmu-ilmu Syariat dan ilmu-ilmu terkait dari mereka yang cenderung memberikannya dengan rantai tersambung yang terhubung (kaidah talaqqi & sanad tersambung); SULUK - pemurnian jiwa/hati dan memurnikan akhlak; dan DAKWAH - menyebarkan ilmu yang bermanfaat dan berdakwah menyeru kepada jalan Allah, Maha Kuasa dan Maha Tinggi. Pembukaan resmi situs Dar al-Mustafa berlangsung pada hari Selasa, tanggal 29 Dzulhijjah, 1417 H, yang bertepatan dengan tanggal 6 Mei 1997. Para siswa dan pengunjung terus berduyun-duyun ke sana dari seluruh dunia. Para lulusan Dar al-Mustafa telah banyak tersebar, banyak membuka sekolah-sekolah agama Islam (pesantren) dan menjadi pendakwah-pendakwah di banyak negara. Habib Umar memiliki perhatian yang kuat untuk meningkatkan kehidupan beragama di Kota Tarim. Beliau telah mengadakan banyak pertemuan, yang paling penting adalah pertemuan Senin 12 mingguan, yang diadakan di lapangan di kota Tarim dan dihadiri oleh ratusan penduduk kota. Beliau juga telah melakukan banyak kunjungan ke berbagai wilayah di Yaman dan telah melakukan banyak ceramah di universitas, institut, dan organisasi.

Perjalanannya

    Habib Umar telah melakukan banyak perjalanan berdakwah menyeru di jalan Allah dan menyebarkan pengetahuan tentang Syariat Islam ke berbagai negeri, termasuk: Negara-negara Teluk, Suriah, Lebanon, Yordania, Mesir, Maroko, Aljazair, Sudan, Mali, Kenya, Tanzania, Afrika Selatan, Kepulauan Komoro, India, Pakistan, Sri Lanka, Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunei, Australia, Inggris, Perancis, Jerman, Belanda, Belgia, Denmark, Bosnia, Swedia dan Spanyol. Dia telah terhubung ke rantai hubungan para ulama di wilayah ini. Dia juga berpartisipasi dalam banyak konferensi Islam. 

Tulisan dan Publikasinya

Al-Habib Umar memiliki sangat banyak publikasi audio dan visual serta tulisan. Di antara karya-karyanya adalah:

  • Al-Mukhtar min Shifa al-Saqim (Dua koleksi hadits: Pilihan dari Shifa al-Saqim) dan Nur al-Iman min Kalam Habib Al-Rahman (Cahaya Iman dari Perkataan Kekasih Al-Rahman)
  • Is`af Talibi Rida Al-Khallaq bi Bayan Ma Karam Al-Akhlaq (Bantuan untuk Mereka yang Mencari Kecintaan Sang Pencipta Melalui Uraian Karakter Mulia)
  • Tawjihat Al-Tullab (Saran untuk Siswa)
  • Khuluquna (Akhlak Kami)
  • Fa`idat Al-mann min Rahamat Wahhab Al-Minan (Pencurahan atas Berkah dari Rahmat Pemberi Keberkahan)
  • Tawjih al-Nabih li-Mardat Barih (Pengarahan Intelektual ke Kepuasan Penerima Manfaat)
  • Al-Dhakira Al-Musharrafa (Harta Karun yang Mulia)
  • Dua kitab Maulid Al-Diya Al-Lami 'fi Dzikr Mawlid Al-Nabi AlShafi` dan Al-Sharab Al-Tuhur fi Dzikri Sirati Badri Al-Budur
  • Fayd Al-Imdad (Pencurahan Bantuan Rohani, Kumpulan Khotbah) 13
  • Thaqafat al-Khatib (Perbaikan/Pemurnian Pengkhotbah)
  •  Kumpulan Qosidah-qosidah.

        Habib Umar juga telah melakukan banyak program untuk meningkatkan kesadaran beragama serta berbagai pelajaran dan wawancara di sejumlah saluran channel satelit. Beliau terus mengajar, menyeru ke jalan Allah, dan mencurahkan kemampuan terbaiknya untuk melakukannya. Semoga Allah memberi beliau kemampuan atas usahanya dengan rahmat-Nya, mengampuni dia, memberinya kelembutan-Nya, dan menerima dari beliau atas usaha-usahanya, dan juga atas semua Muslim.


(Sumber dari Al-Khulashah dan sumber lain)


Read More

DOWNLOAD KITAB AL-KHULASHAH DAN TERJEMAH PDF KARYA HABIB UMAR BIN HAFIDZ

 


Kitab ini berisi kumpulan Dzikir yang disusun oleh al-Habib Umar bin Hafizh, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Mustofa, Tarim, Hadramaut. Isi di dalamnya antara lain: Dzikir siang dan malam, Dzikir sebelum shalat fajar, Dzikir setelah shalat, Dzikir setelah shalat subuh, Dzikir setelah shalat Dhuhur, Dzikir setelah shalat Ashar, Dzikir setelah shalat Maghrib, Dzikir setelah shalat Isya', Dzikir malam Jum'at dan hari Jum'at, Dzikir waktu Ashar pada hari Jum'at, Berbagai macam shalawat Nabi SAW, do'a-do'a penting dan dibagian akhir, akan disertakan Biografi al-Habib Umar bin Hafizh.

Disamping bacaannya yang ditulis dalam bahasa Arab, Kitab ini juga menyertakan terjemahan, sehingga kita bisa menghayati makna-makna doa yang terkandung di dalamnya. Ditambah lagi tambahan Maulid Addhiyaullami, Hadrah Basaudan, Maulid Ad-Dibai dan Burdah

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR 
DAFTAR ISI 
BIOGRAFI ḤABIB UMAR BIN MUḤAMMAD BIN SALIM
BIN ḤAFIDẒ 
AL-KHULASHAH 
• Niat untuk Mengajar dan Belajar oleh Imam Al-Ḥaddad 
DZIKIR PAGI DAN MALAM 
• Doa Saat Bangun Dari Tidur 
• Doa Setelah Wudhu 
• Sholat Tahajud
• Doa di Penghujung Malam Setelah Sholat Witir 
• Doa dengan Menggunakan Nama-nama Allah Yang Indah
• Qasidah Imam Abu Bakar bin Abdullah Alaydrus
• Qasidah Imam Abdullah bin Alawi Al-Ḥaddad 
• Qasidah Al-Ḥabib Abdullah bin Ḥusin bin Ṭahir 
• Qasidah Al-Ḥabib Ali bin Muḥammad Al-Ḥabsyi 
• Qasidah Imam Al-Haddad 
• Doa Al-Ḥabib Muḥammad bin Abdullah Al-Haddar 
• Wirid Sayyidina Al-Syeikh Abu Bakar bin Salim 
• Doa Meninggalkan Rumah 
• Doa Berjalan Menuju Masjid 
• Doa Masuk ke Masjid
• Doa Keluar Dari Masjid
DZIKIR DAN DOA YANG BERKAITAN DENGAN FAJAR 
• Dzikir Sebelum Fajar 
• Doa Saat Fajar
• Dzikir Sebelum Iqomah Sholat 
• Dzikir Setelah Sholat 2
• Doa Al Muslimin 

• Dzikir Setelah Sholat Fajar 
• Wirid Sayyidina Al-Syeikh Abu Bakar bin Salim 
• Wirdul Laṭif dari Imam Al-Ḥaddad 6
• Surah Yasin .
• Doa Setelah Membaca Surah Yasin
• Wirid Imam Abu Bakar bin Abdurraḥman Assegaf
(Wirid Sakran) 
• Wirid Imam Al-Nawawi
SHOLAT DHUHA
• Doa Setelah Sholat Dhuha 
• Doa Istikharah 
• Niat untuk Mengajar dan Belajar oleh Imam Al-Ḥaddad 
• Doa Persaudaraan Karena Allah
WIRID DAN DOA YANG BERKAITAN DENGAN DZUHUR
• Hizbun Nashar Imam Al-Haddad 
WIRID DAN DOA YANG BERKAITAN DENGAN ASHAR 
• Surat Al-Waqi’ah
• Doa Setelah Membaca Surat Al-Waqi’ah 
• Hizbul Bahr-Sayyid Abu Al-Hasan Al-Syadzili 
WIRID DAN DOA YANG BERKAITAN DENGAN MAGHRIB
• Wirdul Latif dari Imam Al-Haddad
• Ratib Imam Umar bin Abdurraḥman Al-Aṭṭas 
• Ratib Yang Terkenal Dari Imam Abdullah Al-Alawi
Al-Haddad
• Aqidah Al Imam Ali bin Abi Bakar As-Sakran 
WIRID DAN DOA YANG BERKAITAN DENGAN ISYA 
• Wirid Imam Abu Bakar bin Abdurraḥman Assegaf
(Wirid Sakran) 
• Wirid Imam al-Nawawi 
• Surat As-Sajadah 
• Surat Al-Mulk 
• Doa Sujud Tilawah dan Syukur 

• Doa Untuk Tidur
• Doa Sholat Tasbiḥ 
DOA UNTUK PERJALANAN 
• Doa Ketika Berniat Untuk Keluar Dari Pintu Rumahnya 
• Doa Saat Meninggalkan Rumah yang Telah Terbukti
Sebagai Penjagaan 
• Doa Ketika Berjalan 
• Doa Ketika di Kendaraan 
• Doa Ketika Duduk di Atas Hewan Tunggangan
• Doa Untuk Orang Yang Berpergian Dengan Mobil,
Pesawat, atau Kapal 
• Doa Amir Al-Mukminin Ali (ra)
• Doa Menghilangkan Kesedihan 
• Doa Ketika Naik Ke Tempat Yang Tinggi 
• Doa Ketika Takut Akan Kesusahan Dalam Perjalanan 
• Doa Ketika Malam Tiba 
• Doa Ketika Memandang Kota Kampung Halamannya
atau Kota Tujuan Lain 
• Doa Ketika Memasuki Rumah 
AL-MASHRAB AL-AHNA 
• Dahaga Tertinggi 
• Akhir Qaṣidah Al-Ta’iyah Imam Al-Ḥaddad 
WIRID UNTUK MALAM DAN HARI JUM’AT 
MEMBACA BACAAN BERIKUT:
• Surat Al-Kahfi 
• Surat Ad-Dukhan 
• Surat Al-Muzzammil 
• Surat Al-Buruj 
• Surat Ath-Ṭhariq 
• Surat Adh-Ḍhuḥa 
• Surat Asy-Syarḥ 
• Surat Al-Qadar 

• Surat Quraysh 
• Surat Al-Kautsar 
• Surat Al-Kafirun 
• Surat An-Naṣhr 
• Surat Al-Masad 
• Surat Al-Ikhlaṣ 
• Surat Al-Falaq 
• Surat An-Nas 
• Qasidah Imam Abu Bakar bin Abdullah Alaydrus 
• Qasidah Imam Al-Ḥaddad 
• Sholawat Ibrahim 
• Sholawat Tajiyyah dari Al-Syeikh Abu Bakar bin Salim 
• Wirid Sayyidina Al-Syeikh Abu Bakar bin Salim 
• Qasidah Ya Robbana Anta Lana
WIRID SETELAH SHOLAT ASHAR PADA HARI JUM’AT 
• Sholawat Ibrahim 
• Sholawat Tajiyyah dari Al-Syeikh Abu Bakar bin Salim 
• Wirid Sayyidina Al-Syeikh Abu Bakar bin Salim 
• Beberapa Sholawat Atas Nabi 
• Doa Di Akhir Majelis Dzikir dan Majelis Ilmu 


Download Kitab Al-Khulashah dan Terjemah klik disini

Download Kitab Al-Khulashah  Tanpa Terjemah klik disini

Read More

Tuesday, February 8, 2022

Kisah Sahabat Nabi Muawiyah Bin Abu Sufyan

 Kisah Sahabat Nabi Muawiyah Bin Abu Sufyan


  
 
    Muawiyah bin Abu Sufyan, merupakan putra dari Abu Sufyan bin Harb, seorang penguasa, hartawan dan pedagang besar di Makkah yang menguasai perniagaan di Jazirah Arabia. Mereka berdua, anak dan bapak termasuk tokoh yang gencar memerangi Islam sampai terjadinya Fathul Makkah. Pada Fathul Makkah ini mereka termasuk dalam kaum yang dibebaskan dari pembalasan (kaum thulaqa'), dan kemudian memeluk Islam. Muawiyah terus memperbaiki keislamannya. Ia mengikuti perang Hunain dan memperoleh ghanimah yang melimpah ruah sebagaimana kaum muallaf Makkah lainnya.Nabi SAW juga mempercayai dirinya menjadi salah satu penulis wahyu. 
    Suatu ketika Nabi SAW pernah bersabda kepadanya, "Wahai Muawiyah, jika kamu menjadi raja, maka berbuat baiklah…!!!" 
    Nabi SAW memang seringkali mengucapkan suatu sabda yang merupakan ramalan, atau suatu penglihatan ghaib ke depan tentang apa yang akan dialami oleh beberapa sahabat. Misalnya pada sahabat Abu Dzar al Ghifari, Abdullah bin Mas'ud, Suraqah bin Malik, Ammar bin Yasir, Hasan bin Ali (cucu beliau), dan lain-lainnya. 
    Begitupun yang terjadi pada Muawiyah ini, bahkan di sana terselip suatu pesan, bahwa dalam kedudukan sebagai raja, ia akan bisa tergelincir dan melakukan kesalahan dalam kaitannya dengan orang lain, karena itu beliau menasehatinya, "…..berbuat baiklah…!!" Tetapi apa yang ditangkap Muawiyah adalah semacam "restu" dari beliau, karenanya, sejak mendengar sabda beliau ini, ia sangat menginginkan (berambisi) untuk memegang jabatan khalifah. 
    Muawiyah memang tidak pernah mengalami masa sulit dan penderitaan dalam keislamannya, karena bukan termasuk dalam sahabat yang memeluk Islam sejak awalnya. Ketika memusuhi Islam, kedudukannya terhormat dan mapan, sehingga praktis kehidupannya selalu dalam kesenangan tanpa derita. Hal ini yang makin memupuk ambisinya untuk bisa mencapai jabatan tertinggi dalam pemerintahan Islam. 
    Pada masa khalifah Abu Bakar, ia menyertai satu pasukan yang dipimpin oleh Yazid bin Abu Sufyan, kakaknya dalam memerangi pasukan Romawi di Damsyiq, Syam. Setelah memperoleh kemenangan, Yazid ditetapkan Abu Bakar sebagai wali negeri Damsyiq. Setelah Yazid wafat, Muawiyah mengambil alih pimpinan pemerintahan yang sebelumnya dipegang oleh kakaknya, tetapi kemudian kedudukannya tersebut ditetapkan oleh khalifah Abu Bakar. Ketika Umar memegang jabatan khalifah, ia mengadakan kunjungan ke Syam termasuk ke Damsyiq. Melihat gaya hidupnya yang bermewah-mewah, yang sangat berbeda dengan prinsip hidupnya, Khalifah Umar berkata kepadanya, "Ini adalah Kisra (Kaisar) Arab….!" 
    Sepulangnya ke Madinah, ia menerbitkan surat pemecatan Muawiyah sebagai wali negeri Damsyiq, dan mengirimkan Sa'id bin Amir sebagai penggantinya. Seorang sahabat Nabi SAW yang memiliki prinsip hidup sederhana dan membenci kemewahan, seperti halnya Umar sendiri. Dalam riwayat lain, bukanlah wali negeri Damsyiq, tetapi wali negeri Homs, suatu wilayah yang sama-sama berada di Syam. Pada pemerintahan Khalifah Utsman bin Affan, Muawiyah ditetapkan sebagai gubernur untuk seluruh wilayah Syam, termasuk Palestina.
    Sebenarnya banyak keluhan masyarakat Syam tentang kepemimpinan Muawiyah dan juga keberandalan putranya, tetapi semua laporan dan keluhan masyarakat tersebut disembunyikan oleh sekretaris Khalifah Utsman, Marwan yang memang masih saudara sepupu Muawiyah. Setelah wafatnya Utsman dan hampir masyarakat muslim memba'iat Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah, Muawiyah menolak untuk berba'iat. Ia berhasil menghimpun kekuatan di Syam dan melakukan perlawanan terhadap pemerintahan Ali bin Abi Thalib. Muawiyah memang memiliki kecerdikan dan kemampuan strategi serta politik yang hebat. Dengan dalih menuntut balas atas kematian khalifah Utsman, ia berhasil mempengaruhi beberapa sahabat untuk bertikai dengan Ali dan memihak pada dirinya. Dan dengan suatu muslihat pula, ia berhasil menurunkan Ali dan meneguhkan dirinya sebagai khalifah, atau tepatnya Raja, karena hanya masyarakat Syam saja yang sepakat memba'iatnya, sedangkan masyarakat di luar Syam tidak bulat mendukungnya. Beberapa sahabat memilih abstain, tidak memilih dan memihak pada salah satu kubu, dan tidak ingin terlibat dalam perselisihan dua kelompok kaum muslimin tersebut. Di antara sahabat utama yang memilih sikap ini adalah Abdullah bin Umar, Usamah bin Zaid, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Muhammad bin Maslamah. 
    Muawiyah beranggapan, bahwa penolakan mereka mendukung Ali, sebagaimana sahabat utama lainnya, karena mereka tidak mengakui keutamaan Ali atau meragukan berhak tidaknya Ali sebagai khalifah. Muawiyah sangat menginginkan dukungan mereka untuk mengokohkan kedudukannya sebagai Amirul Mukminin (khalifah, dalam pemahamannya). Ia mengirimkan beberapa utusan menemui mereka dan mempengaruhi mereka agar mendukung dirinya. Bahkan para utusannya tersebut dipesankan untuk membawa bahasa diplomasi yang cerdas, "Sesungguhnya tuan-tuan lebih berhak menduduki kekhalifahan daripada Ali." 
    Tetapi apa yang diharapkan oleh Muawiyah jauh sekali dari kenyataan. Bahkan ia seolah menerima tamparan keras dengan jawaban mereka. Abdullah bin Umar menjawab ajakannya dengan ucapan, "Apa yang kamu harapkan dariku, adalah sesuatu yang menjadikan dirimu seperti sekarang ini…Aku tidak bergabung dengan Ali bukan karena aku mencurigainya. Demi Allah, aku sama sekali tidak setaraf dengan Ali bin Abi Thalib, baik dalam hal keimanan, hijrah dan kedudukannya di sisi Rasulullah SAW, dan juga perjuangannya dalam melawan kemusyrikan…. Tetapi yang terjadi sekarang ini, sama sekali tidak pernah terjadi di masa Rasulullah SAW, karena itu saya tidak ingin memihak siapapun!! Jangan coba-coba mempengaruhi diriku..!!" 
    Kalau Abdullah bin Umar mengakui tidak selevel dan sederajad dengan Ali, bagaimana dengan Muawiyah?? Dan Sa'd bin Abi Waqqash memberikan jawaban seperti ini, "Persoalan ini sejak awal tidak aku sukai dan akhirnyapun tidak aku sukai…Seandainya Thalhah dan Zubair tetap tinggal di rumahnya masing-masing, tentu itu lebih baik bagi mereka…Semoga Allah SWT mengampuni Ummul Mukminin (Aisyah RA) atas apa yang telah terjadi. Sungguh saya tidak akan pernah memerangi Ali selama-lamanya Saya telah mendengar Rasulullah SAW bersabda kepada Ali : Kedudukanmu di sampingku, adalah laksana Harun di sisi Musa, hanya saja tidak ada lagi Nabi sesudahku…." Memang, tiga orang utama, Aisyah RA (Ummul Mukminin), Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam sempat termakan fitnah yang dihembuskan oleh Muawiyah. 
    Atas dalih "menuntut balas pembunuh Utsman", mereka memimpin sekelompok pasukan melawan Ali yang dianggap tidak tegas terhadap pembunuh Utsman. Pertentangan bersenjata yang dikenal dengan nama Perang Jamal (Perang Berunta), sebenarnya berakhir damai karena Thalhah dan Zubair yang memimpin pasukan tersebut akhirnya menyadari kesalahannya, dan mundur dari pertempuran. Hanya saja ada beberapa orang yang tidak puas dengan gagalnya pertempuran, segera membunuh Thalhah dan Zubair, yang sama sekali tidak melakukan perlawanan. 
    Sedangkan Ummul Mukminin Aisyah RA dikawal pulang ke Madinah dengan pengawalan pasukan yang dipimpin Muhammad bin Abu Bakar, saudaranya sendiri yang berada di pihak Ali. Sedangkan Muhammad bin Maslamah memberikan jawaban yang tegas, tanpa tedeng aling-aling, "…Sesungguhnya kamu (wahai Muawiyah), demi nyawaku, yang kamu cari tidak lain hanyalah duniawiah semata, dan yang kamu perturutkan tidak lain adalah hawa nafsu belaka. 
    Kamu membela Utsman di kala ia telah wafat sedangkan semasa hidupnya, engkau hanya merongrongnya…. Andaikata sikapku ini tidak sesuai dengan yang kamu harapkan, hal itu sedikitpun tidak mengurangi kesenanganku dan tidak menyebabkan keraguanku. Sungguh aku lebih mengenal dan mengetahui kebenaran daripada engkau…!!" 
    Inilah sebagian dari fitnah yang terjadi di kalangan umat Islam saat itu, fitnah, yang kata Al qur'an lebih besar (dosanya) daripada pembunuhan. Terbunuhnya kaum muslimin akibat fitnah ini jauh lebih banyak daripada sekedar pembunuhan biasa, dan itu dilakukan oleh orang islam sendiri. Fitnah yang hampir pasti tidak bisa dihindarkan karena Nabi SAW telah meramalkan sebelumnya, dengan berbagai sabda beliau kepada beberapa orang sahabat yang berbeda-beda. 
    Terlepas dari peran kontroversial Muawiyah dalam situasi fitnah yang tidak terhindarkan ini, wilayah Islam makin meluas dalam masa pemerintahannya, bahkan menjangkau wilayah Eropa sekarang ini. Bagaimanapun juga Muawiyah seorang sahabat Nabi SAW, dan kita sama sekali "tidak pantas" untuk melakukan penilaian apalagi "hujatan" atas apa yang telah dilakukan Muawiyah. Kita serahkan semuanya kepada Allah, Dialah Pemilik Rahasia Takdir dan Arsitek semua peristiwa yang telah terjadi di antara para sahabat.
Read More

Wednesday, December 9, 2020

DOWNLOAD KITAB AT-TAQRIROT AS SADIDAH AL KAFF

 DOWNLOAD KITAB AT-TAQRIROT AS SADIDAH AL KAFF




Judul kitab : At-taqrirot As-Sadidah Fil Masa'il Al-Mufidah

Penulis : Syekh Hasan bin Ahmad bin Muhammad Al-Kaff

Muhaqqiq : -

Penerbit : Darul Ilmi Wad Da'wah, Tarim - Yaman

Cetakan : Pertama

Tahun : 2003

Link download (PDF) :Klik Disini 

Deskripsi: Kitab ini merupakan salah satu kitab fiqih madzhab syafi'i yang paling populer dikalangan pelajar ilmu fiqih saat ini, dan sering kali dijadikan rujukan oleh para santri dalam mempelajari fiqih madzhab syafi'i. Kelebihan utama kitab ini adalah metode penyusunannya yang sangat rapi, dimana permasalahan yang dibahas diberi nomer dan tabel untuk memudahkan pemahaman, seperti tabel perbedaan antara "al-lams" dan "al-mass" pada penjelasan masalah perkara-perkara yang membatalkan wudhu', perbedaan antara wudhu dan tayammum, tabel hukum seputar siklus haid dan nifas, dan pada pembahasan-pembahasan lainnya. Selain itu selain mencantumkan ukuran dan timbangan yang berlaku dalam fiqih, seperti farsah dan qullah, dicantumkan juga ukuran dan timbangan tersebut jika memakai ukuran dan timbangan yang berlaku pada masa ini.

Read More

Friday, October 11, 2019

JANGAN MENGADU DOMBA SESAMA MUSLIM


۞اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ۞

 *Jangan menjadi seseorang pengadu domba. Seharusnya kita berfikir lebih panjang ketika ada orang yang berusaha mencari kesalahan orang lain dan kita tidak perlu mengatakan kembali pada orang yang dibicarakan nya itu.
 Kau cukup diam dan cukup tahu dengan apa yang sedang terjadi. Bila kau tetap ingin pertemanan mereka baik baik saja, maka kau tak perlu membuang waktu mu untuk membicarakan hal yang tidak ada faedahnya


Sholat, Sholawat dan Shodaqoh
Senyum Salam Sapa
Senyum Sehat Sholawat Ok
Serius Santai Sukses
Yang Keras Yang Semangat
Read More

Tuesday, August 20, 2019

LIMA RUKUN NIKAH


Lima Rukun Nikah dan Penjelasannya

Sebagaimana kita ketahui, rukun adalah bagian pokok dari suatu perbuatan yang membuat perbuatan tersebut dinyatakan sah. Contohnya, shalat tidak akan sah tanpa takbiratul ihram, karena takbiratul ihram merupakan bagian pokok dari shalat tersebut.

Sementara dalam bab nikah, rukun nikah berarti bagian dari nikah itu sendiri yang mana ketiadaan salah satu diantaranya akan menjadikan nikah tersebut menjadi tidak sah.

Dikutip dari Imam Zakaria al-Anshari dalam Fathul Wahab bi Syarhi Minhaj al-Thalab (Beirut: Dar al-Fikr), juz II, hal. 41, rukun nikah tersebut ialah:

فَصْلٌ: فِي أَرْكَانِ النِّكَاحِ وَغَيْرِهَا. " أَرْكَانُهُ " خَمْسَةٌ " زَوْجٌ وَزَوْجَةٌ وَوَلِيٌّ وَشَاهِدَانِ وَصِيغَةٌ

“Pasal tentang rukun-rukun nikah dan lainnya. Rukun-rukun nikah ada lima, yakni mempelai pria, mempelai wanita, wali, dua saksi, dan shighat.

Dari pemaparan di atas bisa kita pahami bahwa rukun nikah ada lima, yakni:

1. Mempelai pria

Mempelai pria yang dimaksud di sini adalah calon suami yang memenuhi persyaratan sebagaimana disebutkan pula oleh Imam Zakaria al-Anshari dalam Fathul Wahab bi Syarhi Minhaj al-Thalab (Beirut: Dar al-Fikr), juz II, hal. 42:

و شرط في الزوج حل واختيار وتعيين وعلم بحل المرأة له "

“Syarat calon suami ialah halal menikahi calon istri (yakni Islam dan bukan mahram), tidak terpaksa, ditertentukan, dan tahu akan halalnya calon istri baginya.”

2. Mempelai wanita

Mempelai wanita yang dimaksud ialah calon istri yang halal dinikahi oleh mempelai pria. Seorang laki-laki dilarang memperistri perempuan yang masuk kategori haram dinikahi. Keharaman itu bisa jadi karena pertalian darah, hubungan persusuan, atau hubungan kemertuaan.


3. Wali

Wali di sini ialah orang tua mempelai wanita baik ayah, kakek maupun pamannya dari pihak ayah (‘amm), dan pihak-pihak lainnya. Secara berurutan, yang berhak menjadi wali adalah ayah, lalu kakek dari pihak ayah, saudara lelaki kandung (kakak ataupun adik), saudara lelaki seayah, paman (saudara lelaki ayah), anak lelaki paman dari jalur ayah.

4. Dua saksi

Dua saksi ini harus memenuhi syarat adil dan terpercaya. Imam Abu Suja’ dalam Matan al-Ghâyah wa Taqrîb (Surabaya: Al-Hidayah, 2000), hal. 31 mengatakan, wali dan dua saksi membutuhkan enam persyaratan, yakni Islam, baligh, berakal, merdeka, lelaki, dan adil.”

5. Shighat

Shighat di sini meliputi ijab dan qabul yang diucapkan antara wali atau perwakilannya dengan mempelai pria.

Demikian, semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bi shawab.



Read More

Monday, August 19, 2019

HIJRAH





Senin, 19 Agustus / 18 Dzulhijjah 1440 H

Judul : Hijrah

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالْجَلِيسِ السَّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ الْمِسْكِ ، وَكِيرِ الْحَدَّادِ ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ الْمِسْكِ إِمَّا تَشْتَرِيهِ ، أَوْ تَجِدُ رِيحَهُ ، وَكِيرُ الْحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ أَوْ ثَوْبَكَ أَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيحًا خَبِيثَةً

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang sholih dan orang yang jelek adalah bagaikan berteman dengan pemilik minyak misk dan pandai besi. Jika engkau tidak dihadiahkan minyak misk olehnya, engkau bisa membeli darinya atau minimal dapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau dapat baunya yang tidak enak.” (HR. Bukhari, no. 2101, dari Abu Musa)

حَدَّثَنَا سَعِيدُ بْنُ مَنْصُورٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي عَمْرُو بْنُ الْحَارِثِ عَنْ يَزِيدَ بْنِ أَبِي حَبِيبٍ أَنَّ نَاعِمًا مَوْلَى أُمِّ سَلَمَةَ حَدَّثَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ قَالَ
أَقْبَلَ رَجُلٌ إِلَى نَبِيِّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ أُبَايِعُكَ عَلَى الْهِجْرَةِ وَالْجِهَادِ أَبْتَغِي الْأَجْرَ مِنْ اللَّهِ قَالَ فَهَلْ مِنْ وَالِدَيْكَ أَحَدٌ حَيٌّ قَالَ نَعَمْ بَلْ كِلَاهُمَا قَالَ فَتَبْتَغِي الْأَجْرَ مِنْ اللَّهِ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَارْجِعْ إِلَى وَالِدَيْكَ فَأَحْسِنْ صُحْبَتَهُمَا

“Seorang laki-laki datang menghadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam lalu dia berkata: Aku bai’at (berjanji setia) dengan Anda akan ikut hijrah dan jihad, karena aku mengingini pahala dari Allah.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Apakah kedua orang tuamu masih hidup?” Jawab orang itu; “Bahkan keduanya masih hidup.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya lagi: “Apakah kamu mengharapkan pahala dari Allah?” Jawabnya; “Ya!” Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Pulanglah kamu kepada kedua orang tuamu, lalu berbaktilah pada keduanya dengan sebaik-baiknya.“ (Hadits riwayat Muslim : 4624)

الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; barangsiapa niat hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan.”. (HR.Bukhari : 52)

و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ خَلَّادٍ الْبَاهِلِيُّ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَمْرٍو الْأَوْزَاعِيُّ حَدَّثَنِي ابْنُ شِهَابٍ الزُّهْرِيِّ حَدَّثَنِي عَطَاءُ بْنُ يَزِيدَ اللَّيْثِيُّ أَنَّهُ حَدَّثَهُمْ قَالَ حَدَّثَنِي أَبُو سَعِيدٍ الْخُدْرِيُّ
أَنَّ أَعْرَابِيًّا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الْهِجْرَةِ فَقَالَ وَيْحَكَ إِنَّ شَأْنَ الْهِجْرَةِ لَشَدِيدٌ فَهَلْ لَكَ مِنْ إِبِلٍ قَالَ نَعَمْ قَالَ فَهَلْ تُؤْتِي صَدَقَتَهَا قَالَ نَعَمْ قَالَ فَاعْمَلْ مِنْ وَرَاءِ الْبِحَارِ فَإِنَّ اللَّهَ لَنْ يَتِرَكَ مِنْ عَمَلِكَ شَيْئًا
و حَدَّثَنَاه عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ الدَّارِمِيُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ إِنَّ اللَّهَ لَنْ يَتِرَكَ مِنْ عَمَلِكَ شَيْئًا وَزَادَ فِي الْحَدِيثِ قَالَ فَهَلْ تَحْلُبُهَا يَوْمَ وِرْدِهَا قَالَ نَعَمْ

“Seorang arab badui bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai hijrah.” Beliau lalu menjawab: “Celaka kamu! Sesungguhnya perkara hijrah itu sangat berat. Apakah kamu mempunyai unta?” Badui itu menjawab: “Ada.” Beliau bertanya: “Apakah kamu telah membayar zakatnya?” dia menjawab, “Ya!” beliau bersabda: “Kalau begitu beramallah di negerimu, sesungguhnya Allah Ta’ala tidak akan menyia-nyiakan pahala amalmu sedikitpun juga.” Dan telah menceritakan kepada kami ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Ad Darami telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Yusuf dari Auza’i dengan isnad seperti ini, namun dia menyebutkan, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan dari amalanmu sedikitpun.’ Dan dalam hadits tersebut juga ditambahkan, beliau bersabda: “Apakah kamu telah memerah susunya?” dia menjawab, “Ya.” (HR.Muslim : 3469)

كَانَتْ الْمُؤْمِنَاتُ إِذَا هَاجَرْنَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُمْتَحَنَّ بِقَوْلِ اللَّهِ { يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِذَا جَاءَكَ الْمُؤْمِنَاتُ يُبَايِعْنَكَ }
إِلَى آخِرِ الْآيَةِ

“Wanita-wanita mukmin apabila mereka melakukan hijrah kepada Rasulullah, maka mereka diuji dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala: ‘Wahai Nabi apabila wanita-wanita mukmin datang kepadamu melakukan bai’at.” (HR Ibnu Majah)

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلُ

“Seseorang akan mencocoki kebiasaan teman karibnya. Oleh karenanya, perhatikanlah siapa yang akan menjadi teman karib kalian”. (HR. Abu Daud, no. 4833; Tirmidzi, no. 2378; Ahmad, 2: 344)

حَدَّثَنَا آدَمُ بْنُ أَبِي إِيَاسٍ قَالَ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي السَّفَرِ وَإِسْمَاعِيلَ بْنِ أَبِي خَالِدٍ عَنْ الشَّعْبِيِّ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ (متفق عليه)

Dari Abdullah bin Amru bin Ash ra, bahwa Rasulullah Shallallahu'alaihi Wasallam bersabda, 'Soerang muslim adalah orang yang menjadikan muslim lainnya merasa selamat dari lisan dan tangan (perbuatannya). Sedangkan muhajir (orang yang hijrah) adalah orang yang meninggalkan segala yang dilarang Allah Subhanahu wa Ta’ala. (Muttafaqun Alaih)

Teks lengkap ayat tersebut adalah:

“Wahai Nabi, apabila datang kepadamu perempuan-perempuan yang beriman untuk mengadakan janji setia, bahwa mereka tidak akan mempersekutukan sesuatu pun dengan Allah, tidak akan mencuri, tidak akan berzina, tidakakan membunuh anak-anaknya, tidak akan berbuat dusta yang mereka ada-adakan antara tangan dan kaki mereka serta tidak akan mendurhakaimu dalam urusan yang baik, maka terimalah janji setia mereka dan mohonkanlah ampunan kepada Allah untuk mereka. Sesungguhnya Allah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (Al-Mumtahanah: 12)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فَانْفِرُوا

Ibn Abbas  menerangkan bahwa Rasul SAW bersabda: Tidak ada kewajiban hijrah setelah Futuh Mekah, melainkan jihad dan niat, maka jika diseru perang segeralah penuhi panggilan tersebut. (Hr. al-Bukhari)

لا تنقطع الهجرة ما تقبلت التوبة، ولا تزال التوبة مقبولة حتى تطلع الشمس من المغرب، فإذا طلعت؛ طُبِعَ على كل قلب بما فيه، وكفي الناس العمل

“Hijrah tidak terputus selama taubat masih diterima. Dan taubat akan senantiasa diterima hingga terbitnya matahari dari arah barat. Apabila telah terbit (dari arah barat), ditutuplah setiap hati dengan apa yang ada di dalamnya, dan cukuplah manusia amal (yang telah dilakukannya)”.(HR. Ahmad)

و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو سَعِيدٍ الْأَشَجُّ كِلَاهُمَا عَنْ أَبِي خَالِدٍ قَالَ أَبُو بَكْرٍ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ إِسْمَعِيلَ بْنِ رَجَاءٍ عَنْ أَوْسِ بْنِ ضَمْعَجٍ عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَؤُمُّ الْقَوْمَ أَقْرَؤُهُمْ لِكِتَابِ اللَّهِ فَإِنْ كَانُوا فِي الْقِرَاءَةِ سَوَاءً فَأَعْلَمُهُمْ بِالسُّنَّةِ فَإِنْ كَانُوا فِي السُّنَّةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ هِجْرَةً فَإِنْ كَانُوا فِي الْهِجْرَةِ سَوَاءً فَأَقْدَمُهُمْ سِلْمًا وَلَا يَؤُمَّنَّ الرَّجُلُ الرَّجُلَ فِي سُلْطَانِهِ وَلَا يَقْعُدْ فِي بَيْتِهِ عَلَى تَكْرِمَتِهِ إِلَّا بِإِذْنِهِ
قَالَ الْأَشَجُّ فِي رِوَايَتِهِ مَكَانَ سِلْمًا سِنًّا حَدَّثَنَا أَبُو كُرَيْبٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ وَأَبُو مُعَاوِيَةَ ح و حَدَّثَنَا الْأَشَجُّ حَدَّثَنَا ابْنُ فُضَيْلٍ ح و حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِي عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ كُلُّهُمْ عَنْ الْأَعْمَشِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ مِثْلَهُ

“Yang berhak menjadi imam atas suatu kaum adalah yang paling menguasai bacaan kitabullah (Alquran), jika dalam bacaan kapasitasnya sama, maka yang paling tahu terhadap sunnah, jika dalam as sunnah (hadis) kapasitasnya sama, maka yang paling dahulu hijrah, jika dalam hijrah sama, maka yang pertama-tama masuk Islam, dan jangan seseorang mengimami seseorang di daerah wewenangnya, dan jangan duduk di rumah seseorang di ruang tamunya, kecuali telah mendapatkan izin darinya.” Kata Al Asyaj dalam periwayatannya dengan redaksi “Maka yang menjadi pertimbangan kapasitas adalah keIslaman dan usia, “ (HR.Muslim : 1078)

حَدَّثَنَا حُمَيْدُ بْنُ مَسْعَدَةَ حَدَّثَنَا جَعْفَرُ بْنُ سُلَيْمَانَ عَنْ الْمُعَلَّى بْنِ زِيَادٍ عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ قُرَّةَ عَنْ مَعْقِلِ بْنِ يَسَارٍ قَالَ
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعِبَادَةُ فِي الْهَرْجِ كَهِجْرَةٍ إِلَيَّ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ibadah dalam kondisi huru-hara bagiku sama seperti melakukan hijrah.” (HR.Ibnu Majah)

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ أُنْزِلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ ابْنُ أَرْبَعِينَ فَمَكَثَ بِمَكَّةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً ثُمَّ أُمِرَ بِالْهِجْرَةِ فَهَاجَرَ إِلَى الْمَدِينَةِ فَمَكَثَ بِهَا عَشْرَ سِنِينَ ثُمَّ تُوُفِّيَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Ibnu Abbas, meriwayatkan bahwa Rasûl SAW menerima wahyu ketika berusia empat puluh tahun, kemudian tetap di Mekah selama tiga belas tahun, kemudian diperintah hijrah. Beliau hijrah ke Madinah dan berada di sana selama sepuluh tahun hingga wafat. (Hr. Ahmad, Bukhori)


حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ بَرَّادٍ الْأَشْعَرِيُّ وَمُحَمَّدُ بْنُ الْعَلَاءِ الْهَمْدَانِيُّ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو أُسَامَةَ حَدَّثَنِي بُرَيْدٌ عَنْ أَبِي بُرْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ
بَلَغَنَا مَخْرَجُ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ بِالْيَمَنِ فَخَرَجْنَا مُهَاجِرِينَ إِلَيْهِ أَنَا وَأَخَوَانِ لِي أَنَا أَصْغَرُهُمَا أَحَدُهُمَا أَبُو بُرْدَةَ وَالْآخَرُ أَبُو رُهْمٍ إِمَّا قَالَ بِضْعًا وَإِمَّا قَالَ ثَلَاثَةً وَخَمْسِينَ أَوْ اثْنَيْنِ وَخَمْسِينَ رَجُلًا مِنْ قَوْمِي قَالَ فَرَكِبْنَا سَفِينَةً فَأَلْقَتْنَا سَفِينَتُنَا إِلَى النَّجَاشِيِّ بِالْحَبَشَةِ فَوَافَقْنَا جَعْفَرَ بْنَ أَبِي طَالِبٍ وَأَصْحَابَهُ عِنْدَهُ فَقَالَ جَعْفَرٌ إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعَثَنَا هَاهُنَا وَأَمَرَنَا بِالْإِقَامَةِ فَأَقِيمُوا مَعَنَا فَأَقَمْنَا مَعَهُ حَتَّى قَدِمْنَا جَمِيعًا قَالَ فَوَافَقْنَا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ افْتَتَحَ خَيْبَرَ فَأَسْهَمَ لَنَا أَوْ قَالَ أَعْطَانَا مِنْهَا وَمَا قَسَمَ لِأَحَدٍ غَابَ عَنْ فَتْحِ خَيْبَرَ مِنْهَا شَيْئًا إِلَّا لِمَنْ شَهِدَ مَعَهُ إِلَّا لِأَصْحَابِ سَفِينَتِنَا مَعَ جَعْفَرٍ وَأَصْحَابِهِ قَسَمَ لَهُمْ مَعَهُمْ قَالَ فَكَانَ نَاسٌ مِنْ النَّاسِ يَقُولُونَ لَنَا يَعْنِي لِأَهْلِ السَّفِينَةِ نَحْنُ سَبَقْنَاكُمْ بِالْهِجْرَةِ قَالَ فَدَخَلَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ عُمَيْسٍ وَهِيَ مِمَّنْ قَدِمَ مَعَنَا عَلَى حَفْصَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَائِرَةً وَقَدْ كَانَتْ هَاجَرَتْ إِلَى النَّجَاشِيِّ فِيمَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِ فَدَخَلَ عُمَرُ عَلَى حَفْصَةَ وَأَسْمَاءُ عِنْدَهَا فَقَالَ عُمَرُ حِينَ رَأَى أَسْمَاءَ مَنْ هَذِهِ قَالَتْ أَسْمَاءُ بِنْتُ عُمَيْسٍ قَالَ عُمَرُ الْحَبَشِيَّةُ هَذِهِ الْبَحْرِيَّةُ هَذِهِ فَقَالَتْ أَسْمَاءُ نَعَمْ فَقَالَ عُمَرُ سَبَقْنَاكُمْ بِالْهِجْرَةِ فَنَحْنُ أَحَقُّ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْكُمْ فَغَضِبَتْ وَقَالَتْ كَلِمَةً كَذَبْتَ يَا عُمَرُ كَلَّا وَاللَّهِ كُنْتُمْ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُطْعِمُ جَائِعَكُمْ وَيَعِظُ جَاهِلَكُمْ وَكُنَّا فِي دَارِ أَوْ فِي أَرْضِ الْبُعَدَاءِ الْبُغَضَاءِ فِي الْحَبَشَةِ وَذَلِكَ فِي اللَّهِ وَفِي رَسُولِهِ وَايْمُ اللَّهِ لَا أَطْعَمُ طَعَامًا وَلَا أَشْرَبُ شَرَابًا حَتَّى أَذْكُرَ مَا قُلْتَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ كُنَّا نُؤْذَى وَنُخَافُ وَسَأَذْكُرُ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَسْأَلُهُ وَ وَاللَّهِ لَا أَكْذِبُ وَلَا أَزِيغُ وَلَا أَزِيدُ عَلَى ذَلِكَ قَالَ فَلَمَّا جَاءَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ يَا نَبِيَّ اللَّهِ إِنَّ عُمَرَ قَالَ كَذَا وَكَذَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَيْسَ بِأَحَقَّ بِي مِنْكُمْ وَلَهُ وَلِأَصْحَابِهِ هِجْرَةٌ وَاحِدَةٌ وَلَكُمْ أَنْتُمْ أَهْلَ السَّفِينَةِ هِجْرَتَانِ قَالَتْ فَلَقَدْ رَأَيْتُ أَبَا مُوسَى وَأَصْحَابَ السَّفِينَةِ يَأْتُونِي أَرْسَالًا يَسْأَلُونِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ مَا مِنْ الدُّنْيَا شَيْءٌ هُمْ بِهِ أَفْرَحُ وَلَا أَعْظَمُ فِي أَنْفُسِهِمْ مِمَّا قَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَبُو بُرْدَةَ فَقَالَتْ أَسْمَاءُ فَلَقَدْ رَأَيْتُ أَبَا مُوسَى وَإِنَّهُ لَيَسْتَعِيدُ هَذَا الْحَدِيثَ مِنِّي

“Ketika kami sedang berada di Yaman, kami mendapat informasi tentang tujuan hijrah yang diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu kami pun turut pergi untuk berhijrah ke wilayah tersebut (Habasyah). Pada saat itu kami terdiri dari diri saya sendiri dan dua orang saudara laki-laki saya. Saya adalah orang yang paling kecil, sementara saudara saya yang satu bernama Abu Burdah dan yang lainnya bernama Abu Ruhm.”

Abu Musa berkata; ‘Mereka terdiri dari beberapa orang atau Iima puluh tiga orang atau lima puluh dua orang dari kaum kami.’ Abu Musa berkata; ‘Kami berlayar hingga terbawa oleh perahu kami ke Raja Najasyi di Habasyah. Kemudian kami bergabung dengan Ja’far bin Abu Thalib beserta rombongannya di sisi Raja Najasyi. Ja’far berkata; ‘Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengutus kami kemari. Selain itu, beliau juga menyuruh kami untuk menetap sini. OIeh karena itu, menetaplah kalian bersama kami.’Abu Musa berkata; ‘Lalu kami tinggal bersama Ja’far hingga kami semua datang.’

Abu Musa berkata; ‘Kami semua bertemu dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam [di Madinah] ketika beliau telah memenangkan perang Khaibar. Beliau memberikan jatah rampasan perang kepada kami. Beliau tidak memberikan jatah rampasan perang sedikitpun kepada orang yang tidak ikut dalam penaklukan Khaibar, kecuali kepada orang yang ikut berperang bersama beliau dan kepada orang yang ikut dalam rombongan kami bersama Ja’far dan kawan-kawannya.’

Abu Musa berkata; ‘Ada sebagian orang [Muhajirin dari Mekah] yang mengatakan kepada kami yang bergabung dalam pelayaran hijrah ke Habasyah; ‘Kami mengungguli kalian dalam masalah hijrah.’

Abu Musa berkata; ‘Asma’ binti Umais, yang termasuk dalam rombongan pelayaran kami, pernah berkunjung ke rumah Hafshah, istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Asma’ pernah turut hijrah ke Raja Najasyi.’ Pada suatu ketika Umar bin Khaththab masuk ke rumah Hafshah, kebetulan Asma’ sedang berada di situ. Ketika Umar melihat Asma’ ada di dalam rumah, maka ia pun bertanya; ‘Siapa ini hai Hafshah? ‘ Hafshah menjawab; ‘Dia adalah Asma’ binti Umais! ‘

Umar bertanya lagi; ‘Apakah ia pernah ikut hijrah ke Habasyah dengan berlayar? ‘ Asma’ binti Umais menjawab; ‘Ya, saya turut hijrah ke Habasyah.’ Umar melanjutkan ucapannya; ‘Kalau begitu, kami lebih berhak terhadap Rasulullah daripada kalian.’

Asma’ menjadi marah dan berkata; ‘Kamu berdusta hai Umar! Demi Allah, kalian memang menyertai hijrah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Tapi beliau memberi makan orang yang lapar di antara kalian dan memberi nasihat orang yang tidak mengerti di antara kalian, sedangkan kami berhijrah ke suatu negeri yang amat jauh di Habasyah yang penuh dengan tantangan karena Allah dan Rasul-Nya. Demi Allah, saya tidak akan makan dan minum sebelum saya laporkan ucapanmu itu kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Karena kami merasa dihina dan dicemaskan. Oleh karena itu, akan saya adukan persoalan ini kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Demi Allah. saya tidak berdusta dan tidak mengada-ada.’

Abu Musa berkata; ‘Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang ke rumah Hafshah, maka Asma’ pun langsung menghadap beliau dan mengadukan persoalan yang mengganjal hatinya; ‘Ya Rasulullah, Umar bin Khaththab tadi mengutarakan begini dan begitu.’

Mendengar pengaduan Asma binti Umais itu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: ‘Ketahuilah olehmu hai Asma, Umar bukanlah orang yang lebih berhak daripada kalian terhadapku. Umar dan para sahabatnya hanya mendapat ganjaran pahala sekali hijrah. Sebaliknya kalian yang tergabung dalam hijrah dengan mengendarai perahu itu mendapat dua kali pahala hijrah.’

Asma’ binti Umais berkata; ‘Setelah itu, saya melihat Abu Musa dan para sahabat yang tergabung dalam hijrah ke Habasyah dengan mengendarai perahu datang berbondong-bondong untuk bertanya kepada saya tentang hadits ini. Di dunia ini tidak ada yang Iebih menyenangkan dan membesarkan jiwa mereka dan apa yang disabdakan Rasulullah kepada mereka.’ Abu Burdah berkata; ‘Asma’ berkata; ‘Sungguh saya lihat Abu Musa dan ia meminta saya mengulangi lagi hadits itu.” (HR.Muslim : 4558)

الُمهَاجِرُمَنْ هَاجَرَ  مَا نَهَى الله عَنْهُ

Orang hijrah adalah yang meninggalkan segala yang dilarang  Allah SWT. (Hr. Ahmad, Ibn Hibban)

المُهَاجِرُ مَنْ  هَاجَرَ السَّيِّئَاتِ

Orang yang berhijrah adalah yang meninggalkan segala keburukan (HR Thabrani) - Disampaikan dalam khutbah Haji Wada oleh Rasulullah SAW.

كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ

“Setiap manusia pernah berbuat salah. Namun yang paling baik dari yang berbuat salah adalah yang mau bertaubat.” (HR. Tirmidzi no. 2499; Ibnu Majah, no. 4251; Ahmad, 3: 198)

Dari Abu Qirshafah r.a., ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Wahai manusia! Berhijrahlah kalian dan berpegang teguhlah pada Islam. Karena hijrah tidak akan pernah berhenti selama jihad masih ada.” (H.R. Thabrani)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Wahai anak Adam! Seandainya kamu datang kepada-Ku dengan membawa dosa hampir sepenuh isi bumi lalu kamu menemui-Ku dalam keadaan tidak mempersekutukan-Ku dengan sesuatu apapun, niscaya Aku pun akan mendatangimu dengan ampunan sebesar itu pula” (HR. Tirmidzi)

Abdullāh Ibn ‘Amr (radiyallāhu ‘anhumā) berkata bahwasanya Rasulullah (sallallāhu ‘alayhi wa sallam) bersabda, “Akan ada hijrah setelah hijrah. Orang-orang terbaik di muka bumi adalah mereka yang tinggal di tempat hijrahnya nabi Ibrahim (Syam). Lalu yang akan tersisa di bumi (selain Syam) adalah seburuk-buruk manusia. Bumi memuntahkan mereka, Allah akan membenci mereka, dan api akan mengumpulkan mereka bersama kera dan babi.” [HR Imām Ahmad, Abū Dāwūd, dan al-Hākim]

"Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya." (Bukhari dan Muslim).
Read More

Sunday, August 18, 2019

KELEBIHAN SHOLAWAT

۞ اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ ۞

“Sholawat adalah jalan menuju ketenangan. Setiap kali kalian mengalami kesusahan, ingatlah bahawa Allah meminta kalian supaya berselawat pada kekasihNya agar Dia berselawat untuk kalian 10 kali sholawat. Lalu Allah akan menghilangkan segala kesusahan itu.”

[Mawlana Shaykh Hisham Al-Kabbani]

Cintailah Para Ulama', Pewaris Para Anbiya'


kalam_ulama
Read More

Saturday, August 10, 2019

TATACARA PENYEMBLIHAN HEWAN KURBAN








Sabtu, 10 Agustus 2019 / 9 Dzulhijjah 1440
Tata Cara Penyembelihan Hewan Qurban 

عن أنس بن مالك رضي اللَّه عنه قال، 
 ضَحَّى النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِكَبْشَيْنِ أَمْلَحَيْنِ أَقْرَنَيْنِ ذَبَحَهُمَا بِيَدِهِ وَسَمَّى وَكَبَّرَ وَوَضَعَ رِجْلَهُ عَلَى صِفَاحِهِمَا

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasanya beliau berkata :
“ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban dengan dua domba yang berwarna putih yang ada hitamnya, dan bertanduk, beliau menyembelihnya dengan tangannya, menyebut nama Allah dan bertakbir, dan meletakkan kakinya di atas samping kambing. “ ( HR. al-Bukhari (5558) dan Muslim (1966 ))

Pelajaran yang terdapat di dalam hadist :

1- Wajib membaca basmalah, dan disunnahkan bertakbir. Lalu meletakkan kaki pada leher hewan sembelihan.
2- Disunnahkan menyebut nama shahibul qurban. Sebagaimana praktek Nabi ketika berqurban beliau bersabda:

اللهم هذا عني، وعمّن لم يُضحِّ من أمتي

“Ini qurban dariku dan umatku yang tidak bisa berqurban” (HR. Al Hakim 7629, dishahihkan Al Albani dalam Syarah At Thahawiyah 456)
3- Gunakan pisau yang tajam sehingga cepat putus dengan demikian hewan qurban tidak terlalu lama merasakan sakit, dan tenangkan hewan sebelum di sembelih. Dalilnya:

وإذا ذبحتم فأحسنوا الذبح . وليحد أحدكم شفرته . فليرح ذبيحته

“Jika kalian menyembelih, sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaknya kalian menajamkan pisau dan hendaknya ia menenangkan hewan sembelihannya” (HR. Muslim 1995)

Tema hadist yang berkaitan dengan Al-qur'an :

- Wajib membaca basmalah, dan disunnahkan bertakbir. Lalu meletakkan kaki pada leher hewan sembelihan. Dalilnya:

وَلَا تَأْكُلُوا مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ

“Jangan kalian makan sembelihan yang tidak disebut nama Allah atasnya, karena itu adalah kefasikan” (QS. Al An’am: 121)

2- Hewan benar-benar mati karena disembelih. Pendapat Ibnu Abbas dan Mujahid, bahwa sesungguhnya tidak boleh memakan unta yang disembelih kecuali bila telah nyata kematiannya dan tidak bergerak-gerak lagi.

فَإِذَا وَجَبَتْ جُنُوبُهَا

Kemudian apabila telah roboh (mati). (Al-Hajj: 36)
Read More

DUDUK DENGAN ORANG SHOLIH SEBAGAI PENGOBAT HATI






















DUDUK DENGAN ORANG SHALIH ITU OBAT HATI 

مُجالسة الصالحين تحولك من ستة إلى ستة : من الشك إلى اليقين .. من الرياء إلى الإخلاص .. من الغفلة إلى الذكر .. من الرغبة في الدنيا إلى الرغبة في الآخرة .. من الكبر إلى التواضع .. من سوء النية إلى النصيحة.

" Duduk bersama orang orang yang shalih akan merubahmu dari 6 hal kepada 6 hal :
1. Dari ragu kepada yakin 
2. Dari riya kepada ikhlash 
3. Dari lalai kepada zikr 
4. Dari cinta dunia kepada cinta akhirat 
5. Dari takabbur kepada tawadhu 
6.Dari buruknya niat kepada nasihat 

( Ulama )

Duduklah bersama orang - orang shalih walau engkau belum shalih ,agar keshalihan mereka tertular kepada dirimu , sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syafii :

أُحِبُّ الصَّالحين وَ لَسْتُ مِنْهُمْ * لَعَلِّيَ أََنْ أَنَالَ بِهِمْ شَفَاعَهْ
Aku mencintai orang-orang saleh meski aku bukan dari mereka
Aku berharap, dengan mencintai mereka aku nanti mendapatkan syafaat

وَأَكْرَهُ مَنْ تِجَارَتُهُ الْمَعَاصِي * وَلَوْ كُنَّا سَوَاءً فِي الْبِضَاعَهْ
Dan aku membenci orang yang maksiat adalah dagangannya
Meski dagangan kami sama

Jika engkau tidak bisa duduk bersama orang - orang yang shalih ,maka hendaklah engkau bersama buku yang mereka tulis karena sebaik - baik teman duduk adalah buku .

Bertemanlah dengan orang - orang yang shalih ,karena memandang mereka itu menerangkan dan mengkilapkan hati .

Terkadang dengan menatap wajah para ulama, jiwa ini seperti sudah mendapatkan nasihat , padahal belum ada satu katapun yang terlontar dari lisannya .

Al-Fudhail bin ‘Iyadh berkata,

نَظْرُ المُؤْمِنِ إِلَى المُؤْمِنِ يَجْلُو القَلْبَ

“Pandangan seorang mukmin kepada mukmin yang lain akan mengilapkan hati.” (Siyar A’lam An- Nubala’, 8 )

Bertemanlah dengan orang orang yang shalih karena itu adalah tombo hati ( obat hati ) 

Sebagaimana yang di lantunkan oleh sunan Bonang dalam syairnya berikut ini :

Tombo Ati iku limo perkorone
Kaping pisan moco Qur'an lan maknane
Kaping pindo sholat wengi lakonono
Kaping telu wong kang sholeh kumpulono
Kaping papat kudu weteng ingkang luwe
Kaping limo dzikir wengi ingkang suwe

Salah sawijine sopo iso ngelakoni
Mugi-mugi Gusti Allah nyembadani

Obat Hati ada lima perkaranya
Yang pertama baca Qur'an dan maknanya
Yang kedua sholat malam dirikanlah
Yang ketiga berkumpullah dengan orang sholeh
Yang keempat perbanyaklah berpuasa
Yang kelima dzikir malam perbanyaklah

Salah satunya siapa bisa menjalani
Moga-moga Gusti Allah mencukupi

Bergaulah dengan orang orang yang shalih ,karena berteman dengan mereka akan menarik mu kepada jalan jalan yang shalih dan benar 

Sebagaimana kata pepatah Arab,

الصَّاحِبُ سَاحِبٌ
“Yang namanya sahabat bisa menarik ( mempengaruhi )

Bergaullah dengan orang orang yang shalih karena teman akrab akan menjadi musuh pada hari kiamat nanti kecuali mereka yang berteman dalam ketaqwaan .

Bersahabatlah dengan orang orang yang shalih karena persahabatan yang di bangun di atas kebaikan akan membuat kita selalu bersama bahkan saling mengunjungi di alam barzakh hingga ke syurga Nya kelak .

Semoga bermanfaat,,,,,,
Read More